Rabu, 05 Juni 2013

melestarikan lingkungan hidup dan kelanjutan kehidupan dalam perspektif budaya


Sunda Lebih Dulu Ada Dari Indonesia

Pada waktu belajar geografi (ilmu bumi) kita menemui sebutan Sunda Besar (Greater Sunda) dan Sunda Kecil (Lesser Sunda). Sunda Besar meliputi pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi, sedangkan Sunda Kecil meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku. Gabungan dari keduanya di zaman dahulu bahkan dinamakan kepulauan Sunda (Sunda Islands). Mungkin pernah tebersit dalam otak kita mengapa di zaman beheula Indonesia dinamakan Sunda.

Menurut penelitian sejarah, kata ‘sunda’ ini sudah dipakai oleh pakar ilmu bumi Ptolemeus pada tahun 150 mengacu pada tiga pulau besar yang terletak di timur India. Kata ‘sunda’ ini berasal dari bahasa Sansekerta yang bermakna ‘bersinar, terang, putih’. Istilah inilah yang kemudian dipakai secara luas oleh pakar ilmu bumi dan kartografer (pembuat atlas) Eropa untuk merujuk pada kawasan yang pada zaman sekarang ini merupakan wilayah kedaulatan Indonesia. Sudah barang tentu tak persis sekali, misalnya Molucca (Maluku) dan Papua tidak termasuk di dalamnya dan dianggap sebagai entitas tersendiri.


Pada atlas yang dibuat oleh Giacomo de Rossi pada tahun 1683, kawasan nusantara ini disebut dengan ’Isole della Sonda’ (kepulauan Sunda). Ada juga peta kuno yang terbuat dari perunggu yang digrafir (engraved copper) tahun 1719 buatan Jerman yang dinamakan ’Die Inseln von Sonte’ (perhatikan cara mengeja orang Barat yang menuliskannya dengan ’sonda’ atau ’sonte’). Bahkan saya menemukan juga gambar ’penduduk Indonesia’ menurut versi mereka pada tahun 1719 itu yang diberi judul ’Habitans des Isles dela Sonde’ (penduduk kepulauan Sunda).
Perjalanan sejarah mencatat bahwa nama ’Sunda’ ini kemudian mengerucut merujuk kepada kerajaan yang berdiri pada abad ke 7 di Pakuan Pajajaran ( kini di sekitar Bogor). Kerajaan Sunda ini runtuh pada tahun 1579, karena pengaruh kekuatan dari Jawa dan kolonialis Belanda. Selama masa penjajahan Belanda, wilayah negara kita dinamakan dengan ’Nederlands Indie’ (Hindia Belanda), namun tercatat pada tahun 1850 seorang antropolog Inggris bernama J.R. Logan memberi nama tanah air kita dengan Indonesia. Menilik nama ’Sunda’ jauh lebih tua dibandingkan dengan ’Indonesia’, mungkin ada pertanyaan menggelitik dari Anda ’Why Indonesia and not Sunda?’ Pertanyaan ini amat sulit dijawab, karena sejarah mempunyai jalannya sendiri yang tidak linier.

Harakiri “Tradisi” Bunuh Diri di Jepang.

Menteri Jasa Keuangan Jepang Tadahiro Matsushita ditemukan gantung diri di kediamannya pada Senin pagi, 11 September 2012 yang lalu. Kematiannya ini terjadi di tengah penyelidikan korupsi dan suap di Kementerian yang dipimpinnya. Berita semacam ini bukan yang pertama kali terjadi di Jepang. Para pejabat atau pemimpin yang terlibat suatu masalah, akan mengundurkan diri mereka atau bahkan melakukan tindakan bunuh diri. Hal tersebut karena orang Jepang memiliki budaya “rasa malu” yang sangat tinggi, selain itu bunuh diri tersebut sudah banyak dilakukan oleh para nenek moyang bangsa Jepang.
hara
Tindakan bunuh diri, dalam bahasa Jepang disebut dengan seppuku (切腹) atau harakiri (腹切り ) yang jika dilihat dari kanjinya dapat diartikan sebagai tindakan memotong atau merobek perut. Tindakan ini dahulu merupakan salah satu ritual yang dilakukan oleh para kaum bushi atau ksatria samurai. Bushi akan melakukan ritual seppuku apabila mereka tertangkap oleh musuh karena berprinsip lebih baik mati daripada harus disiksa oleh musuh, dan jika bushi tersebut melakukan pengkhianatan atau gagal dalam tugasnya, sebagai wujud dari penyesalan dan tanggung jawabnya karena telah mengecewakan kelompoknya. Ritual seppuku ini akan dilakukan di depan kelompoknya (jika berupa hukuman karena gagal bertugas) dengan sebuah pisau tradisional yang bernama tanto, setelah membuka kimono yang dikenakan, perut dirobet dari arah kiri ke kanan.
200px-Akashi_Gidayu_writing_his_death_poem_before_comitting_Seppuku
Tindakan seppuku pertama kali dilakukan oleh Minamoto no Yorimasa ketika perang Uji pada tahun 1180. Tindakan seppuku ini banyak dilakukan oleh daimyo (pemimpin tertinggi kaum bushi) yang kalah pada suatu perang atas perintah daimyo yang memenangkan perang tersebut. Tindakan bunuh diri dari daimyo yang kalah ini akan memberikan dampak psikologis bagi pengikutnya, sehingga tidak aka nada lagi perlawanan. Toyotomi Hideyoshi sering menggunakan metode ini untuk melumpuhkan kekuatan musuhnya yang sudah kalah. Peristiwa yang paling dramatis terjadi ketika Hideyoshi berhasil memimpin klan Odawara untuk mengalahkan klan Hojo, keluarga daimyo terkuat di Jepang bagian timur, pada tahun 1590. Saat itu ia memerintahkan Hojo Ujimasa, mantan daimyo dari klan Hojo untuk melakukan seppuku kemudian mengasingkan putranya Ujinao.
200px-Seppuku-2


Dalam perkembangannya, seppuku dilakukan oleh seseorang untuk menunjukkan rasa ketidak-setujuannya kepada keputusan penguasa (baik raja maupun pemerintah modern). Kejadian yang terkenal adalah adalah seppuku yang dilakukan oleh sastrawan terkenal Jepang, Mishima Yukio di markas besar tentara Jepang pada tahun 1970 sebagai bentuk protesnya kepada kebijakan pemerintah pada masa itu.
220px-Wakisashi-sepukku-p1000699220px-Femme-47-ronin-seppuku-p1000701

Pada masa modern kini, masyarakat Jepang masih banyak memilih jalan bunuh diri ini untuk menyelesaikan masalah walaupun tidak harus selalu dengan cara merobek perutnya. Karena ritual seppuku ini pada zaman dahulu dilakukan oleh para kaum bushi, maka tindakan ini dianggap sebagai salah satu tindakan ksatria dan wujud tanggung jawab seseorang pada suatu kegagalan. Selain faktor sejarah tersebut, banyaknya pejabat Jepang yang melakukan tindakan bunuh diri, membuat masyarakat Jepang masih memilih tindakan bunuh diri untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam hidup mereka. Hmmm… sungguh kesadaran akan budaya yang begitu kuat sampai saat ini pun tetap lestari

Senin, 03 Juni 2013

sambut sambut

assalamualaikum, salam sejahtera untuk kita semua
saudara sekalian perkenal kan saya moch sulton arief seorang pemuda biasa yang tak punya apa-apa tuk saya banggakan,
dengan adanya blog ini saya harap kita akan bersama-sama melestarikan budaya bangsa ini yang selama ini telah kita lupakan

ayo bersama bangkitkan bangsa inbdonesia bangunkan macan asia yang telah lama tertidur

salam damai syekh sulton

semar



SEMAR NGE-BLANK

   Tak seperti biasanya, suasana di lereng gunung penanggungan yang selalu sunyi sepi kini terlihat sedikit lebih hidup, umbul-umbul disana-sini, suara gamelan jawa beradu dengan suara orkes melayu sonata yang keluar dari sound system yang memecahkan kesunyian dan membuahkan kebisingan yang sedikit menarik dan cukup menghibur. Ternyata semua itu karena ada ramen-ramen di PPLH SELOLIMAN yang pada tanggal 15 mei ini mengadakan peringatan dies natalies yang ke 23, pantas saja suasana yang biasanya tenang dan sepi itu kini menjadi ceria dan indah karena aura kegembiraan para staf PPLH SELOLIMAN. Ditambah lagi kali ini ada workshop yang di gelar di ruangan seminar PPLH SELOLIMAN dengan  tema ‘’ PELESTARIAN  LINGKUNGAN  HIDUP DALAM  PERSPEKTIF  BUDAYA’’  dengan narasumber bapak taufiq rahzen dari Sumbawa dan sinuwun kanjeng pangeran tejowulan dari kasunanan Surakarta, solo.
Pantas saja begitu hidup suasana di lereng gunung para dewa itu, karena kehadiran dua budayawan yang sangat karismatik itu. ‘’ Ayo gong nanti kita terlambat’’ petruk mengajak bagong untuk menghadiri acara workshop pada hari rabu pagi itu, maklum lah kalo masalah membahas budaya dan lingkungan hidup, bagong dan petruk tidak pernah ketinggalan karena mereka sangat cinta dan bangga akan budaya bangsa ini, mereka adalah wujud pemuda yang sangat tangguh dan ber-akhlaq, tentu saja mereka berharap akan mendapatkan sebuah pemahaman baru tentang budaya dan kehidupan sehingga mereka dapat melestarikan budaya yang telah lama menghilang dari kehidupan ini, terutama kehidupan para pemuda sebaya mereka berdua yang sekarang sudah terkontaminasi dengan budaya barat yang mungkin bagi mereka berdua sangat aneh bin nyeleneh, anak-anak kecil zaman sekarang lebih suka mendengarkan lagu justin bieber dari pada di obok-oboknya josua, mereka lebih sering menghabiskan waktu di depan layar computer warnet daripada maen blusukan di hutan dengan membawa ketapel berburu burung prenjak, sekarang anak-anak lebih suka main playstationnya mbak sanah dari pada main kelereng seperti zaman bagong dan petruk dulu. Sungguh miris jika melihat keadaan zaman sekarang yang semakin aneh bin ruwet.
Dung dor dung dor dung dor… terdengar suara dari jalan raya, ternyata arak-arakan kesenian REOG dari turonggo seto pandaan di iringi dengan ramainya warga desa seloliman, mbah-mbah, bapak-bapak, ibuk-ibuk, dan anak-anak pun ikut meramaikan suasana pada hari ulang tahun PPLH SELOLIMAN tersebut. ‘’ Trok… petrok.. trok.. onok reog ‘’ suara teriakan gareng dari kejauhan, memanggil petrok yang sedang asyik mendengarkan pak Tauriq rahzen yang sedang menjelaskan tentang aspek-aspek kehidupan yang membangun dan melestarikan budaya.
RASA, BASA, MASA, YASA. Itulah yang di dengarkan oleh petruk dan bagong beserta para tamu undangan pada pagi itu.
Aspek-aspek kehidupan yang saling berkaitan dan bisa membantu menyelaraskan budaya dan lingkungan, ‘’rasa adalah bagaimana kita melihat dan memahami setiap kejadian setiap peristiwa dari yang paling kecil hingga yang sangat besar seperti kasus korupsi impor daging sapi yang di lakukan oleh sang arjuna ahmad fathonah yang selalu dikelilingi wanita-wanita cantik dan sexy yang membuat bagong ngiri, rasa mengajarkan kita bagaimana memahami dengan sebenar-benarnya kehidupan yang sedang kita jalani tanpa menyalahkan dan membenarkan siapa pun, olah roso, itulah yang sering di katakana oleh kanjeng sunan syekh siti jenar, suatu ajaran ilmu laku yang memusatkan fikiran pada hati sebagai kunci penyatuan antara kesadaran ruhani dan kesadaran jasmani, untuk mencapai esempurnaan nurani ‘’ wah babagan ilmu makrifat iki’’ celetuk petrok.
Pak taufiq rahzen melanjutkan dongengnya ‘’ setelah menginjak rasa, manusia juga harus memperhatikan basa atau cara bicara, cara seseorang mengeluarkan uneg-unegnya cara setiap makhluk berkomunikasi dengan sesamanya bahkan dengan tuhannya, basa atau bahasa adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan karena bahasa adalah cerminan jati diri bangsa, juga sebagai tanda pengenal bagi setiap suku sekaligus ciri khas dari budaya bangsa Indonesia. Disela-sela dongengan pak taufiq rahzen bagong mulai sedikit curiga dengan perilaku bhoponya yang sejak tadi mengikuti acara workshop dari awal, dari sejak pembukaan oleh manager PPLH  SELOLIMAN  yang lebih mirip seperti khutbah jum’at tapi sedikit menghibur dengan acara pura-pura ngambek karena mikrofone yang dipakainya pura-pura rusak.
Semar yang tadinya terlihat sangat rileks dan sangat menikmati setiap cucuran ilmu yang jatuh dari mulut pak taufiq rahzen, sekarang mulai terlihat agak tegang dan sedikit seperti orang bingung, ‘’ kang petrok, bhopo kenapa? ’’
Petruk dan bagong tidak tahu kalau sekarang otak kanan dan otak kiri bhopo mereka sedang berperang, terompet perang pun telah dibunyikan, perang kali ini  begitu besar dan dahsyat bahkan perang bharata yudha perang saudara wangsa khuru antara pandawa dengan kurawa di kurusetra yang sempat menggegerkan alam kah hyangan masih kalah dahsyat di bandingkan perang yang terjadi antara kedua sisi otak semar, perang antara logika dan imaginasi, antara fakta dan fiksi, otak kanan dan otak kiri semar tak mampu mencerna dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut pak taufiq rahzen, bagi orang seperti semar pemahaman-pemahaman seperti yang di utarakan oleh pak taufi rahzen itu kurang mengena, dan belum bias di jadikan pathokan untuk melestarikan budaya bangsa, sebatas teory saja tidak akan bisa merubah segalanya, bagi orang seperti semar aksi nyata lah yang di butuhkan untuk keadaan zaman yang seperti sekarang ini, pandai berorasi dan pandai berbicara di depan umum bukan jaminan seseorang bisa merubah dunia ini menjadi seperti dulu lagi, bagi semar kartoraharjo yang dulu sempat dia rasakan bersama para tetua lainnya kini telah musnah hilang jauh dari pandangan mata mereka tapi tetap tersimpan rapi di hati mereka bagaimana rasanya ketentraman kejayaan kemashuran budaya bangsa ini yang dulu sempat mereka nikmati.
   Perang yang terjadi di dalam kepala semar sangatlah dahsyat, sehingga membuat semar terlihat sangat kosong, nge-blank seperti computer di kamar bagong yang sudah sangat tua dan tak layak lagi di pakai, tapi masih di simpan hingga saat ini, karena bagi keluarga punakawan ini computer tua yang sudah bobrok itu adalah kenangan yang sangat indah computer itu bagian dari kartoraharjo bangsa Indonesia pada masa itu dan computer tersebut sangatlah bersejarah bagi mereka ber-empat, sejarah yang memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kehidupan dan kematian moral untuk mereka.

semar



SEMAR  “EMBO ”
                       
 Seperti biasanya suasana pagi di kost-kostan para punakawan begitu ceriah dan sangat nggerebeki , udara pagi yang begitu segar di lereng gunung penanggungan gunung yang katanya tempat tinggal para dewa, dan sekaligus tempat nongkrongnya para pejabat Negara tercinta ini ‘’djawa dwipa’’beradu dengan bau minyak misiekh yang keluar dari congor gareng, bagong, dan petruk.
Tapi di pagi ini ada yang berbeda, semar tak terlihat batang jambulnya, semar yang biasanya selalu ada di tengah-tengah putra-putranya itu dengan wajah yang sejuk dan marem untuk dilihat ditambah lagi dengan esem an nya yang membuat setiap orang yang melihatnya pasti jatuh hati dan langsung tertunduk patuh kepadanya, itulah ajian semar mesem yang sangat dahsyat yang membuat setiap orang jatuh hati aji pengasihan yang tiada tandingan dan tiada obatnya ‘’ mesem iku ngibadah’’ itulah yang selalu dia katakana, sebagai orang yang di tua kan oleh warga kampong seloliman dia selalu mengatakan bahwa setiap masalah akan segera musnah jika kita hadapi dengan senyuman ‘’ don’t worry everything is gona be okay’’ itulah yang dia selalu katakana dalam hati kecilnya.
Pagi ini memang benar-benar sepi tanpa hadirnya semar di sela sela guyonan khas para punakawan, ‘’kemana bhopo semar kok ra madang?’’ Tanya si bagong dengan matanya yang melotot merah membara, ‘’iyo gong, dari tadi malam bhopo tidak kelihatan, malahan dipannya aja kosong’’ sahut gareng. Suasana pagi itu mendadak menjadi sangat sunyi karena aura kekhawatiran yang menyelimuti hati ketiga punakawan itu, ‘’bhopo sedang pergi nonton demo di alun-alun mojokerto, kemaren di ajak cak sulaiman untuk nonton demo buruh menuntut hak azasi buruh yang selama ini sudah semakin tidak di hiraukan lagi di negri ini’’ petruk menjawab dengan gaya nya yang khas yang selalu ndangak-ndangak biar kelihatan hidungnya yang ndangir itu, tapi suasana pun kembali sunyi sepi, pagi itu mereka bertiga pun kehilangan nafsu makan mereka, bagong yang biasanya habis tiga wakul nasi katul sekarang dia hanya makan separuh piring nasi saja, sungguh mereka merindukan dan mengkhawatirkan bhopo mereka.
Di sela-sela kesunyian itu terdengar suara ucapan salam‘’ assalamualaikum’’ tak asing lagi itu adalah bhopo semar, tanpa menunggu balasan salamnya dia langsung duduk ndusel-ndusel di tengah-tengah para punakawan, tapi kali ini ada yang berbeda dengan wajah semar, semar yang biasanya selalu terlihat ceria kini dia pulang dengan wajah yang murung dan kusut seperti keset yang di tekuk-tekuk.Suasana pun kembali hening dan penuh tanda Tanya di hati ketiga punakawan gareng,bagong,dan petruk.
Mereka tidak tahu bahwa saat ini hati kecil semar sedang menangis menjerit-jerit, tersayat-sayat rasanya sakit hati yang dia rasakan saat dulu di putusin mbok nah tiada apa-apanya kata semar,
Kemarin semar melihat peristiwa yang sangat tidak bermoral yang di lakukan para polisi yang seharusnya melindungi dan menjaga keamanan saat demo, malah membuat kerusuhan dan memancing amarah para demonstran dengan tingkah bodohnya yang tanpa sebab apa-apa mereka mengeroyok seorang pendemo yang sedang asik mendengarkan orasi. Peristiwa itu sangat membuat semar terpukul, hatinya serasa mendapatkan gocangan yang sangat hebat tsunami di aceh pada tahun 2006 lalu tidak sebanding dengan apa yang di rasakan semar saat ini. Ini lah wujud kebobrokan keadilan di negri ini, Negara yang katanya Negara hukum ini kini telah kehilangan jati diri nya, petugas keamanan yang seharusnya memberikan rasa aman dan nyaman kepada rakyat, sekarang telah menjadi momok yang membawa kengerian dan rasa takut yang mendalam kepada setiap individu, di tambah lagi pas pulang dari alun-alun semar dan cak sulaiman di cegat polantas yang sedang razia di jalan niaga mojosari di setopan panjer, semar melihat pemandangan yang menyayat-nyayat hatinya lagi. Oknum-oknum polisi yang mencari uang di jalanan dengan cerdik berkamuflase bagaikan bunglon yang mengejar mangsanya, razia kendaraan bermotor pun di jadikan alasan untuk memeras uang rakyat kecil , kesalahan kecil seperti kaca sepion, helem, dan lampu kota, jadi santapan lezat bagi mereka para preman berseragam.
Kebetulan waktu itu motor yang di tungganginya dengan cak sulaiman adalah motornya wak da’ok yang terkenal suka otak-atik motor jadi maklumlah motornya lebih mirip dengan sepeda ontel dari pada motor Honda astrea, ‘’ silakan tanggal 28 sidang’’ itulah kata yang terlontar dari mulut pak polisi yang terhormat, dan dengan segala hormat pak polisi pun ngajak damai dengan meminta uang ‘’Rp 50.000 saja sudah beres mas ‘’ lanjut polantas. Dengan berat hati dan dengan sedikit takut cak sulaiman terpaksa memberikan uang yang semata wayang itu kepada pak polisi yang terhormat itu, padahal uang itu jagane blonjo kaos buat di lukis, memang benar-benar kebangetan Negara ini, preman-preman di jalan mereka ciduk tapi kerusakan moral di jalanan tetap lestari karena mereka juga mendaratkan preman-preman baru dengan seragam dan motor yang jauh lebih bagus dari preman jalanan biasa,
        Pagi itu semar sangat bingung dan hatinya gundah gulana amarahnya meluap-luap melihat setiap kejadian penyimpangan moral di negeri ini, saking emosinya  tak terasa kalo dia sarapan habis 5 wakul nasi tiwul iwak asin, ‘’Loh….. loh… loh… suwengi keluyuran isuk kawit muleh ujug-ujug madang entek limang wakul’’ kata petruk sambil ngakak
‘’ loalaaaaaaa………. Bhopo SEMAR EMBO’’ sahut bagong.